Jika bisa kembali ke masa lalu aku akan mengatakan kepada diriku untuk tidak memberikan kesempatan kedua pada orang yang sama. Mungkin semua akan berbeda. Kita masih bisa berteman biasa. Aku tidak akan merasakan sakit sedalam ini. Aku menyalahkannya? tidak. ini adalah kesalahanku. Mengapa terlalu percaya begitu saja pada manusia. mengapa terlalu berharap kepada manusia.
Dari Satu Kata
Kamis, 17 Juli 2025
Mengapa sulit sekali membuka hati
Kamu terlalu pemilih yaaa
begitulah kiranya orang-orang berpendapat tentangku.
Andai saja mereka tahu. betapa berusahanya diriku untuk menerima orang lain masuk ke duniaku. Betapa aku berusaha untuk mencoba mengerti orang lain. Tidak sedikit. Namun entah rasanya sulit sekali untuk membuka hati kembali. Rasanya hatiku masih saja dipenuhi oleh luka-luka lama. Yang mana setiap orang akan masuk luka itu semakin terbuka dan pedih. Ada kekhawatiran yang menghantui pikiranku. AKu takut akan mendapatkan sakit yang mungkin berkali lipat dari masa lalu yang pernah kurasakan.
Tapi tidak semua orang sepertinya
Benar. aku percaya itu . tidak semua orang itu jahat. Tapi tidak semua orang juga baik. dan lagi aku merasa takut. Akan ditemukan dengan salah satu orang jahat itu. atau bisa jadi sekarang mereka begitu baik namun akhirya mereka membuka topengnya dan berbuat jahat.
Aku kini sedang bertanya-tanya. apakah masih ada manusia yang akan selalu mencintaiku dan tidak akan pernah menyakitiku. Biar saja orang menganggap aku serakah. tidak ada bahagia yang abadi. Tapi aku tetap berharap dan berdoa.. Bukan hal yang salah bukan . Tuhan selalu mendengar doa hambanya.
Minggu, 15 September 2024
Tentang Rasa Yang Tak juga Padam
Hai
Kamu apa kabar?
Semoga baik-baik ya... Amiin...
Aku di sini juga baik-baik. Iya aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir. Tapi sepertinya itu tidak mungkin hehe Aku tau. Aku sadar kok.
Hari ini aku hanya ingin menyapamu meskipun tidak sampai padamu. Aku hanya berani menyapamu lewat postingan ini. Meskipun sebenarnya aku bisa saja mengirimimu pesan, tapi aku tidak cukup berani. Dulu aku tidak peduli tentang penilaianmu padaku. Dulu aku begitu nekat untuk bisa dekat denganmu. Namun kini rasanya aku malu. Aku merasa terlalu mengusikmu. Aku takut kamu jengah dengan tingkahku. Jadi cukup dengan tulisan ini aku menyapamu.
Dulu rasanya usahaku hampir berhasil. Kita seperti sudah saling mengenal. Bahkan sempat bercanda dan candaan kita nyambung. Namun kini kita menjadi asing. Terakhir kali kita berkomunikasi sepertinya itu juga berisi tentang candaan. Yaaa sepertinya kamu tidak pernah berpikir serius tentang diriku. Entahlah. mungkin aku yang terlallu banyak berharap. aku yang terlalu berharap bahwa dengan berbalas pesan kamu mungkin bisa menyukai sedikit hal tentang diriku. Mungkin kamu akan penasaran akan sosokku. Nyatanya sekarang semua kembali ke titik awal. Kita seperti tidak saling mengenal. Bahkan terasa berada di dunia yang berbeda. Aku hanya bisa melihat kegiatanmu. sementara kamu sepertinya tidak peduli dengan apa yang aku lakukan. itu hanya asumsiku. tapi mungkin saja itu kebenarannya.
Aku sudah berkali-kali mengatakan kepada diriku bahwa aku akan menyerah padamu. Aku berkata bahwa aku akan mencoba untuk menjalin komunikasi dengan orang baru. tapi nyatanya perasaannku masih terikat padamu. Aku tidak bisa menerima siapapun masuk ke hatiku. Aku berusaha. tapi tetap saja tidak ada yang bisa mengertiku sebanyak kamu. tidak ada yang bisa nyambung bicara denganku layaknya kamu. kenapa kamu seolah menjeratku? padahal aku tahu kamu berusaha mencari seseorang yang kamu inginkan. tapi perasaanku tetap tertuju padamu.
Lagi mungkin aku akan menyerah saat tahu bahwa kamu akan mengadakan pernikahan. jadi cepatlah kejar siapapun yang menjadi tujuanmu. perjelaslah. supaya aku dengan mudah bisa menyerah. supaya aku cepat sadar bahwa perasaanku padamu hanya kekaguman biasa. bahwa perasaanku padamu harusnya sudah tidak layak dipertahankan. segeralah menikaaaah....
Senin, 14 Desember 2020
Kali Pertama
Aku ingat kali pertama mata kita tak sengaja bertatap. Lalu aku seketika terperanjat, menyadari di sudut sana kau sedang menatapku dengan lekat. Lantas ku alihkan pandanganku pada pohon yang sedang berbunga itu. Namun tetap saja, pikiranku masih berpusat padamu. "Mungkinkah?" Ah ku tengadahkan wajahku ke langit dan ku tutup mataku agar tak tersilaukan oleh terpaan sinar mentari pagi ini. Dan tentu saja, ini ku lakukan untuk menghindari pertemuan mata yg merisaukan untuk kedua kalinya. Tp tetap saja, selang berapa lama, pandangan mataku mengedar ke penjuru arah. Mencari2 sesuatu yg baru saja aku lewatkan. 😂
Bolehkah ku mengenang?
Bolehkan aku mengenangmu barang sebentar saja? Bukannya, aku tak sanggup melupakan segalanya. Kau sudah tiada baik dalam rasa dan jiwa. Namun, otakku seperti dipaksa untuk kembali ke awal semula, ke tempat dimana segalanya bermula. Bagaimana tidak? Setiap sudut tempat ini dengan kerasnya menyuguhkanku cerita lama. Ku lihat disana, kau sedang menyanyikan lagu dengan tatap matamu yang tak lepas dariku. Senyummu disana menyapaku dan meyakinkanku bahwa kau adalah milikku. Kau berjalan menujuku dengan tawa sederhanamu. Aku benar2 tidak bisa mengelak. Segalanya berhasil membuatku lupa bahwa kata "kita" sudah tidak lagi ada.
"Ini mbak Orange Tea dan bakarannya" ucapan yg ku rasa menjadi penolongku malam ini. Jika tidak, bisa saja aku tenggelam dalam kenangan yang kian menyesakkan.Rencana Tuhan
Tuhan, aku tidak pernah lelah mengagumi keindahan ciptaanMu. Layaknya aku yang terus menerus mengaguminya. Salah satu manusia Ciptaan Mu yang tak sengaja ku temui di serambi Masjid Agung Kota seusai sholat Ashar. Seorang laki2 yang mengenakan kaos hitam dan hem kotak2 yang dibiarkan terbuka. Ia mengkombinasikan bajunya dengan celana jeans dark blue dan sepatu bertali yang aku tidak tahu mereknya apa. Sisa air wudhu di ujung rambutnya menetes ke lantai masjid saat ia sedang sibuk mengikat tali sepatunya.
"Astagfirullah" dengan cepat ku alihkan pandanganku. Ajakan temanku untuk menuju taman kota juga ikut membantuku kembali ke alam sadar.Selang dua minggu, aku dipertemukan dengan seorang laki2 yang mungkin jika sama2 cocok akan menjadi imamku. Laki2 itu adalah alumni pondok pesantren. Aku memang mengidamkan suami yang taat ibadah tp apakah harus alumni pondok pesantren? Bagaimana jika dia adalah orang yang kaku. Tidak mentolerir kesalahan sekecil apapun. Karena setauku, pondok itu seperti penjara. Temanku juga sering menyebutnya penjara suci. Sedangkan aku? Aku sama sekali tidak pernah tau kehidupan pondok itu seperti apa. Aku sudah terbiasa hidup bebas tanpa ada kekangan dari siapapun. Keluargaku selalu membebaskan aku untuk memilih, asal tidak keluar dari tuntunan agama. Perjodohan inipun bukan paksaan mereka tp aku yang memilih.
Laki2 itu sudah tiba di rumahku. Aku menyuguhkan minuman ke ruang tamu. Aku diminta ayah untuk ikut duduk dan mengobrol. Aku melirik laki2 itu. Wajah yang tidak asing. Aku mencoba mengingat2 siapa laki2 itu.. benar. Dia adalah laki2 yang aku temui 2 minggu yang lalu. Kali ini dia tampak berbeda. Dia benar2 terlihat seperti santri pondok. Berbaju lengan panjang dan memakai celana kain warna hitam. Meski dia tampak berbeda, tapi entah mengapa perasaanku padanya tetap sama 😊
Bukankah skenario Tuhan itu luar biasa
Bisa Jadi
Bisa jadi hati yang kamu patahkan itu adalah hati yang sudah mati2an berjuang untuk kembali utuh, atau bisa jadi hati itu sudah berkali-kali dipatahkan. Dan malangnya, ketika ia terlanjur percaya bahwa kamu bisa menyembuhkan dan percaya bahwa kamu tidak akan tega untuk mematahkan, justru nyatanya kamu tak hanya mematahkan tapi juga memporak-porandakan.