Senin, 14 Desember 2020

Rencana Tuhan

Tuhan, aku tidak pernah lelah mengagumi keindahan ciptaanMu. Layaknya aku yang terus menerus mengaguminya. Salah satu manusia Ciptaan Mu yang tak sengaja ku temui di serambi Masjid Agung Kota seusai sholat Ashar. Seorang laki2 yang mengenakan kaos hitam dan hem kotak2 yang dibiarkan terbuka. Ia mengkombinasikan bajunya dengan celana jeans dark blue dan sepatu bertali yang aku tidak tahu mereknya apa. Sisa air wudhu di ujung rambutnya menetes ke lantai masjid saat ia sedang sibuk mengikat tali sepatunya.

"Astagfirullah" dengan cepat ku alihkan pandanganku. Ajakan temanku untuk menuju taman kota juga ikut membantuku kembali ke alam sadar.

Selang dua minggu, aku dipertemukan dengan seorang laki2 yang mungkin jika sama2 cocok akan menjadi imamku. Laki2 itu adalah alumni pondok pesantren. Aku memang mengidamkan suami yang taat ibadah tp apakah harus alumni pondok pesantren? Bagaimana jika dia adalah orang yang kaku. Tidak mentolerir kesalahan sekecil apapun. Karena setauku, pondok itu seperti penjara. Temanku juga sering menyebutnya penjara suci. Sedangkan aku? Aku sama sekali tidak pernah tau kehidupan pondok itu seperti apa. Aku sudah terbiasa hidup bebas tanpa ada kekangan dari siapapun. Keluargaku selalu membebaskan aku untuk memilih, asal tidak keluar dari tuntunan agama. Perjodohan inipun bukan paksaan mereka tp aku yang memilih.

Laki2 itu sudah tiba di rumahku. Aku menyuguhkan minuman ke ruang tamu. Aku diminta ayah untuk ikut duduk dan mengobrol. Aku melirik laki2 itu. Wajah yang tidak asing. Aku mencoba mengingat2 siapa laki2 itu.. benar. Dia adalah laki2 yang aku temui 2 minggu yang lalu. Kali ini dia tampak berbeda. Dia benar2 terlihat seperti santri pondok. Berbaju lengan panjang dan memakai celana kain warna hitam. Meski dia tampak berbeda, tapi entah mengapa perasaanku padanya tetap sama 😊

Bukankah skenario Tuhan itu luar biasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar